Roma - Ada ikatan istimewa antara Carlo Ancelotti
dengan AS Roma. Ikatan itulah yang diyakini Ancelotti suatu saat akan
membawanya kembali ke tim ibukota Italia tersebut.
Ancelotti,
meski lebih dikenal karena suksesnya bersama AC Milan baik sebagai
pemain atau pelatih, namun merintis nama besarnya bersama Roma. Memulai
karier di Parma, pria berjuluk Carletto itu menemukan kebintangan
bersama Roma.
Dia memperkuat Giallorossi selama delapan
tahun sebagai pemain, tampil total 227 kali dan mencetak 17 gol. Dengan
jumlah penampilan itu, Roma pun menjadi tim yang paling mendapatkan
servisnya. Dipercaya menjadi kapten tim, Ancelotti mengantarkan Roma
meraih gelar Liga Italia pada 1982-1983, empat trofi Coppa Italia, dan
meloloskan I Lupi ke final Piala Champions atau yang sekarang dikenal dengan Liga Champions.
Dari
Roma, dia lantas hijrah ke Milan dan memperkuat tim tersebut dari
1987-1992. Tampil 160 kali dan mencetak 11 gol, pria yang berposisi
sebagai gelandang ini merengkuh dua gelar Piala Champions, dua titel
Serie A, dan berbagai trofi lainnya antara lain Piala Super Eropa, Piala
Super Italia, dan Piala Interkontinental.
Maka jika ada klub
yang meninggalkan kesan istimewa untuk Ancelotti, itu adalah Roma dan
Milan. Dua tim ini juga yang kemungkinan bakal jadi prioritasnya saat
kembali dari masa istirahat.
"Saya akan sangat senang untuk
menjadi pelatih Roma suatu hari nanti, karena ini adalah sebuah tim yang
saya cintai di kota yang juga saya cintai. Saya juga akan senang
kembali ke Milan. Mereka sempat menghubungi saya, tapi saya harus
menjalani operasi punggung dan memilih berisitirahat setahun," katanya
kepada Corriere dello Sport.
"Saya senang mengambil
waktu rehat, karena saya benar-benar membutuhkannya. Saya tidak
buru-buru dan sejujurnya tidak akan mempertimbangkan mengambil pekerjaan
di tengah musim."
"Kami akan membicarakannya lagi di akhir
musim, untuk menyusun sebuah petualangan baru dengan layak. Bisa juga
bekerja di luar negeri, karena saya sekarang menguasai banyak bahasa,"
imbuhnya seperti dilansir Football Italia.
Selain
sebagai pemain, Ancelotti juga meraih sukses besar bersama Milan sebagai
pelatih. Dia meraih dua titel Liga Champions, satu gelar Serie A, dan
berbagai trofi lain seperti Piala Super Eropa, Coppa Italia, Piala Super
Italia, dan Piala Dunia Antarklub.
Justru sampai saat ini dia
belum mendapatkan kesempatan untuk menukangi Roma, tim yang disebutnya
memberikan banyak memori sebagai pemain. Selain terkesan dengan kota
Roma, Ancelotti juga punya kesan mendalam dengan gairah para
penggemarnya.
"Kotanya mengagumkan dan penggemarnya fantastis.
Dulu ketika saya turun dari kereta dan naik taksi ke markas klub, para
penggemar kemudian mulai menghina si supir yang malang, menudingnya
pasti seorang penggemar Lazio karena meminta bayaran untuk mengantar
saya," ujarnya.
"Itu adalah tahun-tahun yang indah. Kami adalah
tim yang fantastis dan hampir seluruhnya tetap menjadi teman sampai
kini. Saya punya memori-memori indah dan tidak cuma soal Scudetto."
"Ada
sejumlah kekecewaan juga, karena saya tidak bisa ambil bagian di Piala
Dunia 1982 dan final Piala Champions (Liga Champions) melawan Liverpool
di Olimpico. Saya menyaksikannya dari tribun dan amat terluka dengan
kekalahan dalam adu penalti tersebut. Saya rasa ada tekanan yang terlalu
besar di kota dan orang-orang merasa hampir yakin dengan hasilnya,"
demikian Ancelotti.
Roma kalah 2-4 dari Liverpool di final Piala
Champions musim 1983-1984 dalam adu penalti, setelah bermain imbang 1-1
di waktu normal. Ancelotti absen di laga itu karena mengalami cedera.
*Rifqi Ardita Widianto - detikSport
Sunday, November 22, 2015
Ancelotti Soal Kembali ke Roma dan Memori Indah di Ibukota
Sunday, November 22, 2015



